
Indonesia saat ini tengah dihadapkan pada “double burden of malnutrition” atau masalah gizi ganda dimana pada satu sisi masih harus berupaya keras untuk mengatasi masalah kekurangan gizi salah satunya stunting, sementara di sisi lain masalah kelebihan gizi mulai merangkak naik yang berujung pada peningkatan kasus penyakit tidak menular (PTM) pada kelompok dewasa. Berinvestasi melalui pemenuhan gizi mutlak diperlukan sebagai bagian dari rumusan perencanaan pembangunan sebuah negara. Mendapat asupan gizi yang cukup adalah hak asasi yang selayaknya didapatkan oleh setiap individu. Gizi yang cukup dapat menunjang lebih optimal pertumbuhan dan perkembangan sejak janin hingga tahapan kehidupan selanjutnya. Pada jangka Panjang pemenuhan kebutuhan gizi dapat memperbaiki kualitas generasi selanjutnya, dimana secara tidak langsung akan meningkatkan manfaat ekonomi yang signifikan melalui perbaikan kualitas sumber daya manusia (Ditjen Kesehatan Masyarakat,2017) (Waroh, 2019).
Stunting ini terjadi khususnya pada anak balita dan menjadi salah satu faktor yang dapat menghambat pertumbuhan. stunting merupakan keadaan dimana anak balita tidak dapat tumbuh secara normal, dimana anak mengalami hambatan dalam perkembangan fisik, otak dan organ lainnya. Hal ini terjadi karena defisiensi gizi jangka panjang terutama pada saat masih di dalam kandungan sampai usia 2 tahun (Maesaroh & Nur Fauziah, 2022). stunting tidak hanya berkaitan dengan kurang atau tidak tercapainya pertumbuhan yang maksimal/gagal tumbuh pada anak namun juga berkaitan erat dengan perkembangan atau kemampuan berpikir/kognitif anak sehingga kesadaran gizi tidak hanya tugas setelah anak lahir namun juga sejak anak masih di dalam kandungan (Astuti et al. 2022). Terjadinya stunting ini disebabkan oleh beberapa faktor. Salah satu faktor tersebut adalah kekurangan gizi saat ibu hamil maupun pada masa balita. Selain itu, faktor lain yang berperan dalam terjadinya stunting adalah cara mengasuh yang kurang baik, jangkauan pelayanan kesehatan yang kurang memadai, masih rendahnya jangkauan keluarga pada makanan yang mengandung zat gizi yang sesuai dengan yang dibutuhkan, sarana air bersih dan kesehatan lingkungan yang masih kurang.

Mahasiswa merupakan calon pendidik dan tenaga yang berada pada bidang keprofesionalannya dalam memberikan berbagai informasi selain mengenai proses belajar mengajar, juga pada kebutuhan peserta didik khususnya pada pemberian nutrisi yang tepat dan sesuai bagi kebutuhan peserta didik. Oleh karena itu, diperlukan pemahaman yang mendalam tentang pemberian nutrisi pada anak usia dini untuk mengindari stunting di sekolah.
Untuk itu, program studi Pendidikan Guru Pendidikan Anak Usia Dini FKIP Universitas Jambi telah menyelenggarakan “KULIAH UMUM PEMBERIAN MAKAN SEHAT DI PAUD SEBAGAI UPAYA PENCEGAHAN STUNTING PADA ANAK USIA DINI”. Kegiatan ini pada 6 September 2024 di Aula Rektorat Lantai 3 Universitas Jambi dan diikuti oleh mahasiswa program studi PGPAUD mewakili setiap semester 1, 3, 5, 7 yang berjumlah 80 mahasiswa dan dihadiri dosen prodi PG-PAUD dengan jumlah 10 orang.
Pemateri pertama Ibu Murhamah, S. T. P., M. Si dari Universitas Terbuka Medan membawakan materi terkait Gizi Seimbang Untuk Optimalisasi Tumbuh Kembang Anak Usia Dini, dilanjutkan materi kedua oleh Bapak Dr.Drs. Haryanto, M.Kes dari Universitas Jambi dengan materinya tentang Pemberian Makan Sehat Di PAUD Sebagai Pencegahan Stunting Pada Anak Usia Dini (Pencegahan dan Penanggulangan Stunting).

Pemberian gizi yang seimbang dan sehat akan memberikan dampak baik bagi kemampuan perkembangan anak usia dini. Melalui kesempatan yang telah disediakan, mahasiswa dapat memperoleh ilmu pengetahuan mengenai penerapan gizi seimbang dan sehat bagi anak usia dini.